News


Kinerja BNI 2013: Laba Bersih BNI Tumbuh 28,5%

Jakarta, 19 Februari 2014. Perekonomian Indonesia yang melambat sepanjang tahun 2013 tidak menghambat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI untuk mencapai kinerja yang cemerlang. BNI berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 28,5% menjadi Rp 9,05 triliun pada akhir tahun 2013.

"Kinerja BNI yang cemerlang itu kami capai ditengah sejumlah tantangan yang muncul baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak yang memicu inflasi tinggi, nilai tukar rupiah yang tertekan akibat melebarnya defisit transaksi berjalan, hingga isu pengurangan stimulus ekonomi oleh pemerintah Amerika Serikat," tutur Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo di Jakarta, Rabu (19/2/2014) saat menyampaikan Paparan Kinerja BNI Tahun 2013 kepada media massa dalam Konferensi Pers yang juga dihadiri oleh segenap Direksi BNI.

Faktor utama penyumbang laba bersih adalah pendapatan operasional (operating income) yang mencapai Rp 28,50 triliun atau tumbuh 19,2% dibanding tahun 2012. Laju operasional BNI tersebut ditopang oleh pesatnya pendapatan bunga bersih (net interest income) yang mencapai Rp 19,06 triliun atau melesat 23,3% lebih tinggi dibandingkan tahun 2012, serta disumbang oleh realisasi pendapatan non bunga yang mencapai Rp 9,44 triliun atau tumbuh 11,8%.

Indikator Keuangan Utama ( dalam Rp Triliun )

Indikator 2012 2013 +/- (%)
Pendapatan Bunga Bersih 15,46 19,06 23,3
Pendapatan Non-bunga 8,45 9,44 11,8
Pendapatan Operasional 23,91 28,50 19,2
Biaya Operasional (12,74) (14,57) 14,4
Laba Sebelum Pajak 11,17 13,93 24,7
Laba Bersih 7,05 9,05 28,5
Laba per Lembar Saham (Rp) 378 486 28,6

Pertumbuhan net interest income tersebut disumbang oleh kinerja penyaluran kredit BNI yang tumbuh 24,9% dibanding tahun 2012 menjadi sebesar Rp 250,64 triliun, dimana alokasi kredit terbesar BNI ada di kredit korporasi yang mencapai Rp 112,23 triliun atau tumbuh 55,4% dibandingkan tahun 2012. Kredit korporasi tersebut sudah termasuk 116 debitur kredit medium BNI yang naik kelas ke kredit korporasi dengan nilai total mencapai Rp 10,3 triliun akibat peningkatan usaha bisnisnya.

"Kredit BNI terus tumbuh pada dua bidang utama. Untuk sektor Business Banking, kredit tumbuh 26,5%, dan untuk bid ang Consumer & Retail Banking yang tumbuh 15,5%," ungkap Gatot.

Pertumbuhan kredit BNI tersebut membuat Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat dari 77,5% pada tahun 2012 menjadi 85,3% pada 2013. Peningkatan kredit ini menunjukkan fungsi BNI sebagai lembaga intermediary yang semakin baik.
Kualitas kredit pun membaik, ditandai dengan menurunnya net NPL maupun gross NPL. Net NPL turun dari 0,8% pada 2012 menjadi 0,5% pada 2013, sedangkan Gross NPL turun dari 2,8% pada 2012 menjadi 2,2% pada tahun 2013. Sesuai prinsip kehati-hatian, BNI juga meningkatkan rasio pencadangan (coverage ratio) dari 123,0% pada tahun 2012 menjadi 128,5% pada tahun 2013.

Rasio-Rasio Keuangan (dalam Persen)

Rasio Keuangan 2012 2013
Loan to Deposit Ratio 77,5 85,3
Cost of Fund 2,7 2,4
Gross Non Performing Loan 2,8 2,2
Net Interest Margin 5,9 6,1
Cost to Income Ratio 49,5 46,7
Return of Equity *) 20,0 22,5
Return of Asset *) 2,9 3,4
Tier I Capital 15,2 14,2
Capital Adequacy Ratio 16,7 15,1

*) Berdasarkan perhitungan rumus yang ditentukan oleh Bank Indonesia

Pertumbuhan kredit BNI tetap didominasi oleh kredit dalam mata uang rupiah, yaitu sekitar 84% dari total portofolio kredit, karena BNI tetap ingin mendukung pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

"Dengan catatan kinerja tersebut, BNI dan dunia perbankan Indonesia patut berbangga, karena ditengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan, perbankan nasional masih mencatatkan kinerja yang cukup baik. Pertumbuhan pendapatan operasional merupakan hasil dari upaya BNI dalam meningkatkan ekspansi kredit dengan fokus pada 8 sektor unggulan yang saat ini mencakup lebih dari 66% dari total portofolio Business Banking BNI," tutur Gatot.

Dana nasabah
Ekspansi kredit BNI yang tumbuh cukup tinggi pada tahun 2013 didukung oleh adanya peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,3% dari Rp 257,66 triliun pada 2012 menjadi Rp 291,89 triliun pada 2013. Kualitas DPK pun semakin dijaga dengan fokus utama pada penghimpunan dana murah berupa Current Account Saving Account (CASA). Upaya itu telah menghasilkan pertumbuhan CASA sebesar 15,3% atau senilai Rp 26,5 triliun. Dengan penambahan CASA tersebut, komposisi dana murah yang dikelola BNI meningkat dari 67,0% pada 2012 menjadi 68,5% pada 2013.

Neraca

Rasio Keuangan 2012 2013 %
Total Assets 333.30 386,66 16,0
Loans 200,74 250,64 24,9
Customer Deposits 257,66 291,89 13,3
Borrowings 8,75 18,95 116,6
Shareholders’ Equity 43,53 47,65 9,5

Upaya untuk meningkatkan CASA pada komposisi DPK BNI terus dilakukan dengan mengoptimalkan program BNI sebagai Bank Transaksional (Transactional Banking), yang dapat meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan pertumbuhan dana berbiaya rendah. Beberapa inisiatif yang dilakukan antara lain adalah memelihara siklus transaksi antar insan BNI; meningkatkan pengguna pelayanan cash management; mengoptimalkan jaringan internasional untuk meningkatkan jasa trade finance, tresuri, hingga bisnis wealth management.

Beberapa pencapaian BNI yang menonjol dalam upaya peningkatan fee based income antara lain adalah menjadi bank nasional pertama yang memberikan pelayanan Trustee, baik untuk transaksi domestik maupun internasional. Pelayanan Trustee untuk transaksi internasional dimulai pada saat BNI menandatangani TPAA (Trustee Paying Agent Agreement) pada 25 Februari 2013 dan untuk domestik pada 22 November 2013.

BNI juga ditunjuk menjadi satu-satunya bank yang melayani setoran penerimaan negara valuta asing (valas) di lima kota dunia, yaitu melalui pelayanan Modul Penerimaan Negara (MPN) . Peluncuran pelayanan MPN valas di Cabang Luar Negeri untuk Singapura dan Hong Kong dilakukan pada 5-8 Februari 2013, sedangkan di Tokyo, London, dan New York dilaksanakan pada 11-15 Februari 2013.

Adapun untuk mengoptimalkan jaringan internasional, pada 20 Februari 2013, BNI memperluas jaringan pelayanan melalui pembukaan Kantor Pemasaran di Osaka, untuk memperkuat pelayanan ke Jepang bagian Barat. Selain itu, BNI juga membuka kantor layanan khusus Remitansi di area Orchard Road, Singapura.

Semakin murah
Tingginya komposisi CASA menyebabkan biaya dana BNI dapat menurun dari 2,7% pada tahun 2012 menjadi 2,4% pada tahun 2013. Tingginya CASA juga menjadi pertanda bahwa loyalitas nasabah baik ritel maupun korporasi kepada BNI tetap terjaga. Hal itu tidak terlepas dari peningkatan service level BNI yang berada di posisi kedua terbaik di industri perbankan nasional, melompat dari posisi tahun sebelumnya yang berada pada peringkat keempat. Prestasi ini diperoleh BNI melalui survei Best Service Excellence Monitor (BSEM) 2013 yang diadakan oleh Marketing Research Indonesia (MRI).

Service level yang menguat tersebut didukung oleh peningkatan layanan BNI dengan adanya penambahan jumlah outlet dan ATM. Jumlah outlet BNI pada akhir tahun 2013 mencapai 1.687 atau bertambah dibandingkan jumlah outlet pada tahun 2012 yaitu sebanyak 1.585. Begitu juga jumlah ATM yang meningkat dari 8.227 unit pada akhir tahun 2012 menjadi 11.163 ATM pada akhir tahun 2013.

Rasio-rasio
Pada tahun 2013, BNI mampu meningkatkan rasio return on asset (ROA) dari 2,9% pada 2012 menjadi 3,4% pada 2013. Begitu pula dengan return on equity (ROE) yang juga menguat dari 20,0% pada tahun 2012 menjadi 22,5% pada tahun 2013. BNI juga mampu membukukan peningkatan Net Interest Margin (NIM) dari 5,9% pada 2012 menjadi 6,1% pada 2013.

Kegiatan operasional BNI juga semakin efisien yang ditandai dengan menurunkan Cost to Income Ratio (CIR) dari 49,5% pada tahun 2012 menjadi 46,7% pada tahun 2013 dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dari 71,0% pada 2012 menjadi 67,1% pada 2013. Membaiknya rasio-rasio tersebut merupakan perwujudan dari pelaksanaan kebijakan strategis BNI dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional. M/p>

Jakarta, 19 Februari 2014. Perekonomian Indonesia yang melambat sepanjang tahun 2013 tidak menghambat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BNI untuk mencapai kinerja yang cemerlang. BNI berhasil mencatat pertumbuhan laba bersih sebesar 28,5% menjadi Rp 9,05 triliun pada akhir tahun 2013.

"Kinerja BNI yang cemerlang itu kami capai ditengah sejumlah tantangan yang muncul baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti kenaikan harga bahan bakar minyak yang memicu inflasi tinggi, nilai tukar rupiah yang tertekan akibat melebarnya defisit transaksi berjalan, hingga isu pengurangan stimulus ekonomi oleh pemerintah Amerika Serikat," tutur Direktur Utama BNI Gatot M Suwondo di Jakarta, Rabu (19/2/2014) saat menyampaikan Paparan Kinerja BNI Tahun 2013 kepada media massa dalam Konferensi Pers yang juga dihadiri oleh segenap Direksi BNI.

Faktor utama penyumbang laba bersih adalah pendapatan operasional (operating income) yang mencapai Rp 28,50 triliun atau tumbuh 19,2% dibanding tahun 2012. Laju operasional BNI tersebut ditopang oleh pesatnya pendapatan bunga bersih (net interest income) yang mencapai Rp 19,06 triliun atau melesat 23,3% lebih tinggi dibandingkan tahun 2012, serta disumbang oleh realisasi pendapatan non bunga yang mencapai Rp 9,44 triliun atau tumbuh 11,8%.

Indikator Keuangan Utama ( dalam Rp Triliun )

Indikator 2012 2013 +/- (%)
Pendapatan Bunga Bersih 15,46 19,06 23,3
Pendapatan Non-bunga 8,45 9,44 11,8
Pendapatan Operasional 23,91 28,50 19,2
Biaya Operasional (12,74) (14,57) 14,4
Laba Sebelum Pajak 11,17 13,93 24,7
Laba Bersih 7,05 9,05 28,5
Laba per Lembar Saham (Rp) 378 486 28,6

Pertumbuhan net interest income tersebut disumbang oleh kinerja penyaluran kredit BNI yang tumbuh 24,9% dibanding tahun 2012 menjadi sebesar Rp 250,64 triliun, dimana alokasi kredit terbesar BNI ada di kredit korporasi yang mencapai Rp 112,23 triliun atau tumbuh 55,4% dibandingkan tahun 2012. Kredit korporasi tersebut sudah termasuk 116 debitur kredit medium BNI yang naik kelas ke kredit korporasi dengan nilai total mencapai Rp 10,3 triliun akibat peningkatan usaha bisnisnya.

"Kredit BNI terus tumbuh pada dua bidang utama. Untuk sektor Business Banking, kredit tumbuh 26,5%, dan untuk bid ang Consumer & Retail Banking yang tumbuh 15,5%," ungkap Gatot.

Pertumbuhan kredit BNI tersebut membuat Loan to Deposit Ratio (LDR) meningkat dari 77,5% pada tahun 2012 menjadi 85,3% pada 2013. Peningkatan kredit ini menunjukkan fungsi BNI sebagai lembaga intermediary yang semakin baik.
Kualitas kredit pun membaik, ditandai dengan menurunnya net NPL maupun gross NPL. Net NPL turun dari 0,8% pada 2012 menjadi 0,5% pada 2013, sedangkan Gross NPL turun dari 2,8% pada 2012 menjadi 2,2% pada tahun 2013. Sesuai prinsip kehati-hatian, BNI juga meningkatkan rasio pencadangan (coverage ratio) dari 123,0% pada tahun 2012 menjadi 128,5% pada tahun 2013.

Rasio-Rasio Keuangan (dalam Persen)

Rasio Keuangan 2012 2013
Loan to Deposit Ratio 77,5 85,3
Cost of Fund 2,7 2,4
Gross Non Performing Loan 2,8 2,2
Net Interest Margin 5,9 6,1
Cost to Income Ratio 49,5 46,7
Return of Equity *) 20,0 22,5
Return of Asset *) 2,9 3,4
Tier I Capital 15,2 14,2
Capital Adequacy Ratio 16,7 15,1

*) Berdasarkan perhitungan rumus yang ditentukan oleh Bank Indonesia

Pertumbuhan kredit BNI tetap didominasi oleh kredit dalam mata uang rupiah, yaitu sekitar 84% dari total portofolio kredit, karena BNI tetap ingin mendukung pertumbuhan ekonomi di Tanah Air.

"Dengan catatan kinerja tersebut, BNI dan dunia perbankan Indonesia patut berbangga, karena ditengah kondisi perekonomian yang penuh tantangan, perbankan nasional masih mencatatkan kinerja yang cukup baik. Pertumbuhan pendapatan operasional merupakan hasil dari upaya BNI dalam meningkatkan ekspansi kredit dengan fokus pada 8 sektor unggulan yang saat ini mencakup lebih dari 66% dari total portofolio Business Banking BNI," tutur Gatot.

Dana nasabah
Ekspansi kredit BNI yang tumbuh cukup tinggi pada tahun 2013 didukung oleh adanya peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,3% dari Rp 257,66 triliun pada 2012 menjadi Rp 291,89 triliun pada 2013. Kualitas DPK pun semakin dijaga dengan fokus utama pada penghimpunan dana murah berupa Current Account Saving Account (CASA). Upaya itu telah menghasilkan pertumbuhan CASA sebesar 15,3% atau senilai Rp 26,5 triliun. Dengan penambahan CASA tersebut, komposisi dana murah yang dikelola BNI meningkat dari 67,0% pada 2012 menjadi 68,5% pada 2013.

Neraca

Rasio Keuangan 2012 2013 %
Total Assets 333.30 386,66 16,0
Loans 200,74 250,64 24,9
Customer Deposits 257,66 291,89 13,3
Borrowings 8,75 18,95 116,6
Shareholders’ Equity 43,53 47,65 9,5

Upaya untuk meningkatkan CASA pada komposisi DPK BNI terus dilakukan dengan mengoptimalkan program BNI sebagai Bank Transaksional (Transactional Banking), yang dapat meningkatkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) dan pertumbuhan dana berbiaya rendah. Beberapa inisiatif yang dilakukan antara lain adalah memelihara siklus transaksi antar insan BNI; meningkatkan pengguna pelayanan cash management; mengoptimalkan jaringan internasional untuk meningkatkan jasa trade finance, tresuri, hingga bisnis wealth management.

Beberapa pencapaian BNI yang menonjol dalam upaya peningkatan fee based income antara lain adalah menjadi bank nasional pertama yang memberikan pelayanan Trustee, baik untuk transaksi domestik maupun internasional. Pelayanan Trustee untuk transaksi internasional dimulai pada saat BNI menandatangani TPAA (Trustee Paying Agent Agreement) pada 25 Februari 2013 dan untuk domestik pada 22 November 2013.

BNI juga ditunjuk menjadi satu-satunya bank yang melayani setoran penerimaan negara valuta asing (valas) di lima kota dunia, yaitu melalui pelayanan Modul Penerimaan Negara (MPN) . Peluncuran pelayanan MPN valas di Cabang Luar Negeri untuk Singapura dan Hong Kong dilakukan pada 5-8 Februari 2013, sedangkan di Tokyo, London, dan New York dilaksanakan pada 11-15 Februari 2013.

Adapun untuk mengoptimalkan jaringan internasional, pada 20 Februari 2013, BNI memperluas jaringan pelayanan melalui pembukaan Kantor Pemasaran di Osaka, untuk memperkuat pelayanan ke Jepang bagian Barat. Selain itu, BNI juga membuka kantor layanan khusus Remitansi di area Orchard Road, Singapura.

Semakin murah
Tingginya komposisi CASA menyebabkan biaya dana BNI dapat menurun dari 2,7% pada tahun 2012 menjadi 2,4% pada tahun 2013. Tingginya CASA juga menjadi pertanda bahwa loyalitas nasabah baik ritel maupun korporasi kepada BNI tetap terjaga. Hal itu tidak terlepas dari peningkatan service level BNI yang berada di posisi kedua terbaik di industri perbankan nasional, melompat dari posisi tahun sebelumnya yang berada pada peringkat keempat. Prestasi ini diperoleh BNI melalui survei Best Service Excellence Monitor (BSEM) 2013 yang diadakan oleh Marketing Research Indonesia (MRI).

Service level yang menguat tersebut didukung oleh peningkatan layanan BNI dengan adanya penambahan jumlah outlet dan ATM. Jumlah outlet BNI pada akhir tahun 2013 mencapai 1.687 atau bertambah dibandingkan jumlah outlet pada tahun 2012 yaitu sebanyak 1.585. Begitu juga jumlah ATM yang meningkat dari 8.227 unit pada akhir tahun 2012 menjadi 11.163 ATM pada akhir tahun 2013.

Rasio-rasio
Pada tahun 2013, BNI mampu meningkatkan rasio return on asset (ROA) dari 2,9% pada 2012 menjadi 3,4% pada 2013. Begitu pula dengan return on equity (ROE) yang juga menguat dari 20,0% pada tahun 2012 menjadi 22,5% pada tahun 2013. BNI juga mampu membukukan peningkatan Net Interest Margin (NIM) dari 5,9% pada 2012 menjadi 6,1% pada 2013.

Kegiatan operasional BNI juga semakin efisien yang ditandai dengan menurunkan Cost to Income Ratio (CIR) dari 49,5% pada tahun 2012 menjadi 46,7% pada tahun 2013 dan Biaya Operasional Pendapatan Operasional (BOPO) dari 71,0% pada 2012 menjadi 67,1% pada 2013. Membaiknya rasio-rasio tersebut merupakan perwujudan dari pelaksanaan kebijakan strategis BNI dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional. M/p>

Related

News Archive