Monday, February 23 2026
“Do not save what is left after spending; instead spend what is left after saving.” – Warren Buffet.
Indikator Ekonomi

Global Market
Pasar keuangan Amerika Serikat ditutup menguat pada akhir pekan lalu, didorong oleh putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian besar kebijakan tarif Presiden Donald Trump. Keputusan ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan biaya impor dan risiko inflasi, sehingga indeks utama Wall Street menguat, dengan S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones mencatatkan kenaikan mingguan. Sentimen positif terutama terlihat pada saham-saham sektor ritel dan teknologi yang selama ini sensitif terhadap kebijakan tarif, seperti Amazon dan Home Depot.
Meski demikian, pasar global tetap dibayangi ketidakpastian arah kebijakan lanjutan AS, mengingat Presiden Trump mengumumkan rencana penerapan tarif global baru sekitar 10–15%. Di sisi lain, data ekonomi AS menunjukkan sinyal campuran : pertumbuhan PDB kuartal IV 2025 melambat ke 1,4%, sementara inflasi inti (PCE) masih bertahan di level tinggi. Kombinasi ini membuat ekspektasi suku bunga The Fed cenderung bertahan ketat lebih lama, yang tercermin dari kenaikan yield US Treasury dan menjaga volatilitas pasar tetap tinggi.
Asia
Di kawasan Asia, pergerakan pasar dan mata uang cenderung beragam mengikuti dinamika global, terutama pergerakan dollar AS dan yield obligasi AS. Harga minyak yang bertahan di level tinggi akibat meningkatnya tensi geopolitik AS–Iran turut menjadi faktor risiko bagi negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia. Sementara itu, pelaku pasar Asia juga mencermati data inflasi dan pertumbuhan dari beberapa negara utama sebagai petunjuk arah kebijakan moneter ke depan, di tengah lingkungan global yang masih sarat ketidakpastian.
Indonesia
Di dalam negeri, pasar keuangan bergerak mixed sepanjang pekan lalu. IHSG secara mingguan masih menguat, meski pada penutupan terakhir terkoreksi tipis dan tekanan terlihat pada sektor konsumer non-siklikal, transportasi, dan energi. Rupiah sempat menguat di akhir pekan, namun secara kumulatif masih melemah sepekan, seiring kuatnya dollar AS. Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun relatif stabil harian, tetapi naik secara mingguan, menandakan masih adanya tekanan jual dari investor.
Dari sisi fundamental, perhatian pasar tertuju pada rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI), APBN, serta data uang beredar (M2). Meski defisit NPI 2025 menyempit dibanding tahun sebelumnya, arus modal asing masih menunjukkan tekanan, terutama pada portofolio. Ke depan, arah pasar domestik akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan tarif AS, pergerakan dollar, serta dinamika harga energi global, yang berpotensi memengaruhi rupiah, SBN, dan sentimen di pasar saham.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 21.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.