Thursday, 9 July 2026
"Time is your friend; impulse is your enemy." – John C. Bogle
Indikator Ekonomi

Global Market
Wall Street di tutup mixed pada perdagangan 08 Juli 2026. Dow Jones turun -1,09% ke 52.348, S&P 500 melemah -0,28% ke 7.482, sementara Nasdaq naik tipis +0,20% ke 25.870. Tekanan utama berasal dari meningkatnya kembali tensi AS–Iran yang membuat harga minyak melonjak dan mendorong kekhawatiran inflasi kembali naik. Namun Nasdaq masih tertahan positif karena dukungan saham semikonduktor, terutama setelah sentimen positif dari kerja sama Apple dan Broadcom.
Bursa Eropa terkoreksi cukup dalam karena investor melakukan risk-off akibat lonjakan harga minyak dan kenaikan yield obligasi global. DAX Jerman turun -2,23%, FTSE 100 Inggris -1,66%, CAC 40 Prancis -2,18%, dan Euro Stoxx 50 -1,79%. Tekanan Eropa relatif lebih besar karena kawasan ini sensitif terhadap harga energi dan risiko inflasi.
Pasar Asia bergerak mixed namun mayoritas tertekan. Nikkei Jepang turun -2,11%, KOSPI Korea Selatan turun tajam -5,35%, Nifty India -2,12%, Shanghai -0,49%, sementara Hang Seng Hong Kong justru naik +2,99%. Koreksi terbesar terjadi di Korea Selatan karena tekanan pada sektor teknologi/semikonduktor, sedangkan Hang Seng terbantu sentimen positif pada saham teknologi China.
Harga minyak Brent bergerak naik tajam, sempat berada di area US$78–79/barel, karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah dan Selat Hormuz. Lonjakan minyak ini kembali memicu kekhawatiran inflasi global, sehingga yield obligasi ikut naik. Di AS, yield UST 10Y berada di sekitar 4,56%, membuat tekanan terhadap aset emerging market masih cukup besar.
Indonesia
IHSG pada 08 Juli 2026 ditutup melemah signifikan -1,89% ke level 5.873,37, dengan tekanan jual yang cukup luas terlihat dari 482 saham melemah, hanya 191 saham menguat, dan 116 saham stagnan, sementara nilai transaksi mencapai sekitar Rp10,55 triliun.
Pelemahan ini turut dipengaruhi sentimen negatif dari isu klasifikasi pasar, setelah S&P Dow Jones Indices mempertahankan Indonesia dalam status emerging market, namun memasukkan Indonesia ke dalam watchlist karena kekhawatiran terkait transparansi kepemilikan saham. Indonesia dapat dikenakan special treatment atau bahkan mengalami penyesuaian klasifikasi ke frontier market pada review berikutnya.
Yield SUN acuan 10 tahun Indonesia hari ini bergerak naik ke sekitar 7,30%. Kenaikan yield ini menunjukkan adanya tekanan jual yang cukup kuat di pasar obligasi. Sedangkan Rupiah ditutup melemah dan kembali berada di area psikologis Rp18.000/US$.
Pemerintah melalui Kemenkeu menyampaikan bahwa kondisi APBN tetap menjadi perhatian pasar. Defisit Semester I-2026 tercatat sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76% terhadap PDB, sementara outlook defisit hingga akhir tahun diproyeksikan melebar menjadi Rp734,3 triliun atau 2,85% terhadap PDB. Meski demikian, Menkeu menegaskan bahwa APBN masih dalam kondisi sehat dan tetap dijaga secara prudent. Pemerintah juga akan mengoptimalkan penerimaan negara tanpa menaikkan tarif pajak.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.