Friday, 10 July 2026
"In investing, what is comfortable is rarely profitable." – Robert Arnott
Indikator Ekonomi

Global Market
Wall Street ditutup menguat pada perdagangan Kamis 09 Juli 2026, didorong rebound saham teknologi dan semikonduktor, meskipun pasar masih mencermati eskalasi konflik AS–Iran. Dow Jones naik +0,27% ke 52.487,41, S&P 500 menguat +0,81% ke 7.543,66, dan Nasdaq melonjak +1,30% ke 26.206,89. Penguatan terutama ditopang sektor teknologi, dengan indeks semikonduktor naik lebih dari 3% seiring sentimen positif dari rencana investasi besar Micron serta optimisme terhadap permintaan chip AI.
Presiden AS Donald Trump dilaporkan menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Iran sudah berakhir. Trump juga menyebut serangan AS sebagai serangan yang sangat keras serta memperingatkan bahwa setiap serangan Iran akan dibalas oleh AS. Sentimen ini berpotensi membuat volatilitas harga minyak dan inflasi global kembali meningkat.
Bursa Asia bergerak variatif. Nikkei Jepang menguat, Shanghai Composite naik, dan Strait Times Singapura juga menguat, sementara Hang Seng Hong Kong melemah. Berdasarkan data regional, Nikkei naik sekitar +1,55% ke 67.856,56, Shanghai menguat +1,65% ke 4.036,59, Hang Seng turun -0,70% ke 24.030,18, dan Strait Times naik +1,20% ke 5.433,88.
Sentimen positif Asia masih ditopang oleh saham-saham teknologi dan AI, terutama setelah pasar kembali melihat peluang berlanjutnya permintaan chip dan infrastruktur AI. Namun, pergerakan belum sepenuhnya solid karena investor masih berhati-hati terhadap risiko konflik AS–Iran, arah harga minyak, serta kebijakan suku bunga The Fed.
Indonesia
IHSG pada perdagangan Kamis, 9 Juli 2026, ditutup rebound +0,67% ke level 5.912,44, sementara LQ45 naik +0,77% ke 587,37. Penguatan didukung oleh aksi beli pada beberapa sektor, terutama barang baku, perindustrian, dan transportasi. Nilai transaksi tercatat sekitar Rp11,48 triliun, dengan 327 saham naik, 275 saham turun, dan 190 saham stagnan.
Sentimen positif domestik datang dari ramainya aktivitas IPO di BEI. Sepanjang pekan ini terdapat enam perusahaan yang mencatatkan saham perdana dengan total dana terhimpun sekitar Rp1,79 triliun, sehingga membantu menjaga minat investor di tengah volatilitas pasar.
Rupiah spot kemarin ditutup melemah ke Rp18.128/US$, turun sekitar 0,63% dari penutupan sebelumnya. Pelemahan Rupiah dipengaruhi kombinasi sentimen domestik berupa turunnya indeks keyakinan konsumen dan penjualan ritel sedangkan yield SUN 10 tahun masih berada di level tinggi sekitar 7,28% , naik dari posisi 7,258% pada hari sebelumnya.
Bursa Efek Indonesia akan menggelar pertemuan dengan S&P DJI menyusul masuknya Indonesia ke dalam watchlist evaluasi klasifikasi pasar. BEI akan paparkan langkah reformasi: data granular jenis investor, keterbukaan kepemilikan saham >1%, ketentuan free float 15% dengan masa transisi 3 tahun, serta daftar HSC yang diperbarui. Direktur BEI sampaikan komunikasi rutin dengan S&P, MSCI, dan FTSE untuk tindak lanjut reformasi dan penguatan pengawasan.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.