Tuesday, 28 July 2026
"Do not save what is left after spending; instead spend what is left after saving." – Warren Buffet
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa ekuitas Wall Street berakhir variative pada perdagangan Senin (27/7), di tengah sikap hati-hati investor menjelang rilis laporan keuangan sejumlah raksasa teknologi dan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve pekan ini. Investor juga mencermati perkembangan di Timur Tengah karena dapat mengancam kenaikan inflasi akibat tingginya harga minyak.
Indeks S&P 500 ditutup naik tipis 0,02% menjadi 7.413,18, sementara Dow Jones Industrial Average menguat 0,51% menjadi 52.210,08, sedangkan Nasdaq Composite Index turun 0,18% ke posisi 24.932,08. Minggu ini dari AS akan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) Price Index periode Juni, yang merupakan indikator inflasi pilihan bank sentral AS.
PM Jepang Sanae Takaichi menonjolkan kemajuan janji-janji pemilunya meski approval rating menurun, dengan bank sentral Jepang (BOJ) diperkirakan Citi bisa lebih dovish pekan ini dan melemahkan yen ke arah 165, sementara pimpinan GPIF menegaskan dana pensiun senilai USD 1.8 triliun itu akan tetap dikelola demi kepentingan penerima manfaat, menepis dorongan Takaichi agar berinvestasi lebih banyak di aset domestik. Di sisi lain, obligasi pemerintah Jepang (JGB) dinilai manajer dana Azimut Group sebagai salah satu peluang terbaik di pasar pendapatan tetap global meski dianggap berisiko tinggi.
Indonesia
IHSG (27/07) turun -0.17% di 6,185, dengan sektor yang paling melemah adalah infrastructures, properties & real estate, dan healthcare. Harga minyak Brent melemah 9,30% dibandingkan penutupan Jumat lalu menjadi US $87,8/barel. Per pagi ini indikator global menunjukkan sentimen yang mixed.
DXY Index menguat tipis sebesar 0,04% menjadi 101,5 sementara yield US Treasury (UST) mengalami penurunan. Yield curve UST 5-tahun dan 10-tahun masing-masing turun sebesar 3 bp dan 4 bp menjadi 4,40% dan 4,65%. Sementara itu Credit Default Swap (CDS) 5-tahun Indonesia turun sebesar 2 bp menjadi 92.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada akhir perdagangan Senin sore setelah pelaku pasar merespons pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI). Mengutip data Bloomberg, Senin (27/7) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup melemah 0,26% ke level Rp18.009 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Jumat (24/7) di Rp17.963 per dolar AS.
Pemerintah akan melaksanakan lelang Surat Berharga Syariah Negara hari ini dengan target indikatif sebesar Rp 10,0 triliun dan target maksimum 200% dari target indikatif. Seri yang akan dilelangkan adalah SPNS08092026, SPNS03022027, SPNS12042027, PBS030, PBS040, PBS034, PBS005, PBS038.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.