Thursday, 30 July 2026
"I never attempt to make money on the stock market. I buy on the assumption that they could close the market the next day and not reopen it for ten years." – Warren Buffet
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham Amerika Serikat turun tajam pada perdagangan Rabu waktu AS atau Kamis (30/7/2026) WIB. Investor menilai Federal Reserve mulai tertinggal dalam upaya mengendalikan inflasi karena kembali mempertahankan suku bunga acuan. Indeks Dow Jones Industrial Average merosot 1.153,18 poin atau 2,19% menjadi 51.594,14, mencatat penurunan harian terbesar sejak April 2025. Indeks S&P 500 turun 1,52% menjadi 7.316,15, sedangkan Nasdaq Composite melemah 1,74% ke level 24.442,94 atau lebih dari 10% di bawah rekor tertingginya. Yield Treasury tenor 10 tahun naik di atas 4,67%, sementara tenor 30 tahun menembus 5,2%, tertinggi sejak 2007.
Federal Reserve (The Fed) melalui rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu (29/7) memutuskan menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50 – 3,75 persen. Keputusan ini diambil dengan mayoritas suara 9-3 di mana Lorie Logan, Beth Hammack, dan Kashkari dissent menginginkan kenaikan 25 bps, mencerminkan adanya tekanan internal untuk segera menekan inflasi akibat lonjakan harga energi. FOMC menegaskan bahwa aktivitas ekonomi AS masih tumbuh solid dengan pasar tenaga kerja stabil. Namun, inflasi tetap tinggi terutama akibat lonjakan harga energi.
Bank of England diperkirakan luas akan menahan suku bunga di 3.75% pada hasil pertemuan malam ini, seiring data inflasi yang lebih lunak dari perkiraan dan pasar tenaga kerja yang melonggar, menurut Bloomberg Economics.
Indonesia
IHSG (29/07) turun -0.64% di 6,091, dengan sektor yang paling melemah adalah properties & real estate, industrials, dan transportation & logistic. Pada perdagangan tanggal 29 Juli 2026 asing mencatatkan net capital inflow sebesar IDR 8.97 T pada pasar negosiasi, tunai dan reguler (all market), dan net capital outflow sebesar Rp 183 Miliar pada pasar reguler. Kemudian selama Juli net capital inflow sebesar IDR 1.60 T meski secara Year-to-date net capital outflow sebesar IDR 72.00 T.
Harga SBN hari ini berpotensi bergerak sideways menguat. CDS 5 yr Indonesia kemarin naik sebesar 125 bps ke level 94.835. Pergerakan obligasi global termasuk SBN masih akan didominasi sentimen memanasnya konflik AS-Iran serta FOMC meeting bulan Juli yang kembali ditahan di level 3.75%. Selain itu, pergerakan SBN juga akan dibayangi sentimen pasca RDG BI bulan Juli yang tercatat tetap di 5.75% dan sentimen siapa yang akan menggantikan Gubernur Bank Indonesia selanjutnya.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap berada di atas 5.0% hingga akhir tahun, meski dihadapkan pada era suku bunga tinggi.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.