Selasa, 4 Agustus 2026
"I never attempt to make money on the stock market. I buy on the assumption that they could close the market the next day and not reopen it for ten years." – Warren Buffet
Indikator Ekonomi

Global Market
Pasar global memasuki sesi asia dengan potensi risk-on yang kuat. Dow Jones ditutup dilevel di 53.178,41 naik 1.32%, S&P 500 naik 1,48%, dan Nasdaq meningkat 2,13%. Kenaikan yang terjadi ditopang oleh kombinasi earnings yang kuat, penurunan harga minyak, dan rilis earning Perusahaan teknologi untuk kinerja di Q2 2026. Amazon naik 4,6% dan kapitalisasi pasarnya menembus USD 3 triliun. Sekitar 85% perusahaan S&P 500 yang telah melapor melampaui estimasi laba.
Katalis terbesar berasal dari harga energi. Minyak Brent turun 7% ke level USD 83,77 dan WTI turun 5,1% ke USD 80,34. Penurunan minyak terjadi setelah Amerika Serikat menunda serangan baru terhadap Iran dan mengisyaratkan jalur perundingan. Disisi lain Penurunan harga minyak berdampak pada turunnya ekspektasi inflasi sehingga yield Treasury 10 tahun turun 6,1 basis poin ke 4,684%.
Namun, kenaikan tersebut masih berbasis ekspektasi diplomasi, bukan kesepakatan yang telah terbukti. Iran membantah perundingan sedang berlangsung maupun adanya rencana pertemuan. Ketidaksesuaian narasi ini membuat minyak, yield, dan saham beresiko mengalami profit taking apabila perkembangan geopolitiknya tidak sesuai yang diharapkan.
Korea mendapat dukungan dari rebound Nasdaq dan inflasi Juli yang turun menjadi 2,8%, tetapi volatilitas saham chip masih tinggi. Selain itu Jepang menghadapi penguatan yen setelah intervensi bersama AS–Jepang, yang dapat membatasi eksportir. Sementara itu, PMI manufaktur swasta China turun ke level 50,9 dari 51,7, sehingga momentum pertumbuhan regional tetap menjadi Katalis yang tetap harus diperhatikan.
Indonesia
IHSG pada penutupan perdagangan 3 agustus 2026 di level 6.234,50, koreksi sebesar - 0,03%. Disisi lain Rupiah memberikan sinyal yang lebih baik, USD/IDR di tutup di level Rp17.988 atau menguat 0,23%, didukung oleh penurunan harga oil sekitar 5%, pelemahan dolar di regional, dan inflasi Juli yang turun menjadi 2,88%. Akan tetapi, posisi eksternal Indonesia belum benar-benar pulih: neraca perdagangan Juni masih defisit USD450 juta karena impor meningkat 34,27%, termasuk impor migas yang naik 105,15%.
Di pasar obligasi, Inflasi yang rendah dan rupiah yang menguat seharusnya akan menjadi factor positif bagi pasar obligasi, akan tetapi kenaikan yield Treasury AS, naiknya suplai SBN, risiko fiskal, dan defisit perdagangan tetap membatasi permintaan obligasi terutapa untuk durasi yang lebih panjang.
Fokus Hari ini adalah Lelang SUN sebesar Rp32 triliun, dengan FR0110 sebagai seri baru serta reopening FR0108, FR0106, FR0107, FR0102, dan FR0105. Hasil lelang akan menjadi katalis utama arah pasar SBN dalam jangka pendek.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.