Jumat, 25 September 2026
"It’s worth reminding ourselves from time to time that gyrations in a stock price may tell us absolutely nothing about the prospects of the company involved." – Peter Lynch
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham Amerika Serikat mengakhiri perdagangan pekan ini dengan pergerakan cenderung mendatar (flat) dan bervariasi. Pergerakan indeks utama tertekan oleh lonjakan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah AS (US Treasury) yang bertahan di level tertinggi dalam dua dekade, serta ketidakpastian pasar komoditas akibat dinamika geopolitik global. Indeks S&P 500 tercatat menguat tipis 0,02% ke level 7.704,13, sementara Nasdaq Composite naik 0,01% di posisi 26.939,37. Sebaliknya, indeks Dow Jones Industrial Average terdepresiasi -0,31% dan merosot ke level 51.349,98. Tekanan utama bursa dipicu oleh yield US Treasury tenor 10 tahun yang merangkak naik mendekati area 5,20%, menambah ketakutan para pelaku pasar mengenai biaya pinjaman korporasi yang semakin mahal di tengah laju inflasi yang masih membendung perekonomian AS.
Ketegangan geopolitik yang kembali memanas turut mendorong harga minyak mentah Brent berfluktuasi tajam di kisaran $100 per barel. Kenaikan harga energi ini semakin menguatkan ekspektasi pasar bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpeluang mempertahankan kebijakan moneter ketat (hawkish) atau bahkan menaikkan suku bunga acuan dalam beberapa waktu mendatang. Ekspektasi tersebut menekan saham-saham sektor teknologi berkapitalisasi besar (mega-cap tech) serta industri semikonduktor yang tergolong sensitif terhadap pergerakan suku bunga.
Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan jual pada perdagangan Jumat (25/9/2026). Indeks terdorong melemah hingga ke level 6.298,61 turun -1.20%, seiring maraknya aksi lepas portofolio oleh investor asing. Tekanan pasar modal domestik ini dipicu oleh gejolak pasar keuangan global, terutama lonjakan yield surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) yang bertahan tinggi di level 5,2%. Kondisi tersebut memicu penguatan dolar AS sekaligus mendorong aksi tarik modal (capital outflow) dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Fluktuasi nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat terus menjadi faktor dominan yang membayangi arah pergerakan pasar saham Indonesia. Pergerakan Rupiah yang cenderung melemah hingga mendekati level Rp. 18.000 per Dolar AS pada perdagangan pekan ini berimbas langsung pada penurunan Indeks Harga Saham Gambungan (IHSG), seiring meningkatnya kehati-hatian para pelaku pasar modal domestik maupun global. Analis pasar modal menilai bahwa keterkaitan antara pergerakan Rupiah dan IHSG saat ini berada pada tingkat sensitivitas yang lumayan tinggi. Langkah Bank Indonesia dalam mengintervensi pasar valas serta menjaga kecukupan cadangan devisa menjadi kunci utama untuk meredam volatilitas.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.