Kamis, 1 Oktober 2026
"It’s worth reminding ourselves from time to time that gyrations in a stock price may tell us absolutely nothing about the prospects of the company involved." – Peter Lynch
Indikator Ekonomi

Global Market
Pasar saham Amerika ditutup variatif pada sesi perdagangan di hari Rabu, dengan Nasdaq menguat sementara S&P 500 melemah. Meski demikian, kedua indeks tersebut mencatat kenaikan kuartalan untuk kedua kalinya secara berturut-turut setelah data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan meredakan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve pada Oktober. Departemen Perdagangan Amerika melaporkan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) naik 3,4% secara tahunan pada bulan Agustus, di bawah perkiraan ekonom sebesar 3,7%.
Pasar saham Eropa mencatat penurunan bulanan pertama dalam enam bulan terakhir pada perdagangan di hari Rabu, tertekan akibat kenaikan imbal hasil (yield) obligasi global yang mengurangi daya tarik aset berisiko. Investor juga mencermati data inflasi Amerika Serikat yang lebih rendah dari perkiraan. Lonjakan harga energi akibat perang Iran, memburuknya kondisi fiskal pemerintah, serta meningkatnya penerbitan obligasi mendorong sejumlah bank sentral utama termasuk Federal Reserve dan Bank Sentral Eropa (ECB), menaikkan suku bunga atau mengambil sikap yang lebih hawkish pada bulan September.
Pasar saham Asia mencatatkan kinerja lebih baik. Bursa Asia tetap optimis dan sebagian besar tidak terpengaruh oleh lonjakan imbal hasil (yield) obligasi. Imbal hasil obligasi pemerintah AS (Treasury) tenor 10 tahun--sebagai acuan utama--bertahan di dekat level tertinggi sejak 2007 pada angka 5,23% di pasar Asia. Angka ini mencatatkan kenaikan hampir 50 basis poin (bps) sepanjang bulan ini. Dan ini merupakan kenaikan terbesar dalam kurun waktu sekitar dua tahun. Perlu dicatat bahwa imbal hasil obligasi bergerak berlawanan arah dengan harganya.
Indonesia
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Rabu (30/9) sebesar 50 poin atau 0,83% ke level 6.071. IHSG sempat bergerak pada rentang 6.071 di zona merah hingga 6.187 di zona hijau. Rentetan pelemahan terjadi sejak Kamis (24/9) meski secara harian sempat rebound ke zona hijau. Dari data IDX, tekanan jual terlihat mendominasi pasar.
Harga SBN bergerak menguat dengan yield tenor 5 yr turun 11.4 bps di level 6.970% dan yield tenor 10 yr turun 4.3 bps di level 7.126%. Kepemilikan asing pada surat berharga pemerintah Indonesia per 25 September 2026 berada di level 13.01% dan mencatat capital outflow sebesar IDR 0.28 T. Selama September terjadi net capital inflow sebesar IDR 0.38 T dan selama Ytd terjadi net capital inflow sebesar IDR 29.52 T.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.