Selasa, 20 Oktober 2026
"You can’t predict. You can prepare. " – Howard Marks
Indikator Ekonomi

Global Market
Wall Street bergerak mixed pada perdagangan Senin, 19 Oktober 2026. Dow Jones turun 0,07% ke 51.966,03, S&P 500 menguat 0,41% ke 7.690,73, dan Nasdaq naik 1,11% ke 26.430,89. Pemulihan saham teknologi dan semikonduktor terjadi setelah aksi jual pekan lalu, meskipun kekhawatiran terhadap pembiayaan infrastruktur AI dan kenaikan yield obligasi AS masih membayangi pasar.
Bursa Eropa melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian politik dan fiskal, terutama di Prancis dan Italia. Euro Stoxx 50 turun 0,92% ke 6.146,85, DAX melemah 1,18% ke 25.319,77, dan FTSE 100 terkoreksi 1,08% ke 10.763,90. Tekanan politik dan risiko fiskal Prancis turut membebani euro serta meningkatkan premi risiko obligasi pemerintahnya.
Bursa Asia bergerak beragam pada Senin, dengan Nikkei Jepang turun 0,62% ke 64.916,70, KOSPI Korea Selatan menguat 1,76% ke 5.768,01, Shanghai Composite naik 0,39% ke 3.730,92, Taiwan Weighted melemah 0,61% ke 46.822,08, dan Straits Times turun 0,07% ke 5.412,00. Sementara itu, ekonomi China tumbuh 4,5% YoY pada kuartal III 2026, tetapi pertumbuhan penjualan ritel September yang hanya 1,1% menunjukkan konsumsi domestik masih lemah.
Yield UST 10Y naik ke 5,145% dari 5,098% pada Jumat, sedangkan DXY menguat 0,17% ke 101,98. Harga Brent berada di US$109,18/barel, sementara emas spot ditutup di US$4.145,13/oz.
Indonesia Market
IHSG pada Senin, 19 Oktober 2026, kembali terkoreksi 3,64% ke 4.996,61, menembus ke bawah level psikologis 5.000 setelah anjlok 11,57% pada Jumat. Tekanan masih berkaitan dengan ketidakpastian pasar pascapengumuman MSCI, sementara sektor infrastruktur, consumer cyclicals, dan barang baku menjadi sektor yang paling melemah. Investor asing mencatat net sell saham Rp1,71 triliun pada Senin, sehingga net outflow Oktober mencapai Rp8,87 triliun dan YTD Rp89,91 triliun.
MSCI masih mengkaji proposal perubahan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market, dengan isu utama terkait transparansi kepemilikan saham dan keterbukaan data investor. BEI dijadwalkan meminta klarifikasi kepada MSCI pada Selasa, 20 Oktober, sementara regulator terus mendorong reformasi pasar untuk menjaga kepercayaan investor global.
Pemerintah menggelar koordinasi bersama Menkeu, BI, OJK, dan Danantara untuk membahas kondisi ekonomi terkini, termasuk upaya menjaga stabilitas keuangan dan kepercayaan pasar.
Rupiah ditutup di Rp18.035/US$ dan masih berada di bawah tekanan volatilitas pasar domestik. Presiden Prabowo meminta BI melanjutkan intervensi melalui instrumen swap, DNDF, dan NDF serta insentif biaya hedging; BI menyebut instrumen tersebut telah mendukung inflow sekitar US$8–9 miliar.
Di pasar obligasi, yield SBN 5Y turun 6,3 bps ke 7,192% dan 10Y turun 1,8 bps ke 7,404%, sementara asing masih mencatat inflow SBN Rp14,51 triliun selama Oktober dan Rp43,41 triliun YTD.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.