Selasa, 27 Oktober 2026
"It’s far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price." – Warren Buffett
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham Amerika berbalik menguat pada penutupan perdagangan Senin kemarin. Dow Jones naik 0,28% ke 52.361,58, S&P 500 naik 0,70% ke 7.676,77, dan Nasdaq naik 0,82% ke 26.169,38. Pendorong utama filing IPO Anthropic (Claude) yang angkat saham AI seperti Nvidia +2,39% dan Micron +2,98%, sementara Meta turun -1,88% karena rencana raising $95 miliar untuk infrastruktur AI.
Harga minyak Brent turun 0,78% ke US$ 115,81/barel dan harga minyak WTI turun 1,46% ke US$ 101,76/barel. Koreksi harga minyak dilarenakan adanya diplomasi antara Menteri Pertahanan Arab Saudi yang bertemu pejabat Iran di Teheran dan mediator Qatar di Teheran.
Bursa Eropa mayoritas menguat yang didukung meredanya harga minyak, namun fokus investor adalah menunggu keputusan suku bunga pada ECB Meeting pada hari kamis ini. Di sisi lain, lembaga rating Moody's mempertahankan peringkat Prancis di Aa3 dengan outlook negatif.
Bursa saham KOSPI (Korea Selatan) dan Nikkei (Jepang) mengalami koreksi dikarenakan kekhawatiran investor terkait laba perusahaan teknologi yang tidak sesuai ekpektasi. Hang Seng +0,51% dan Shanghai Composite Indeks +0,19%. Pasar Asia akan dipengaruhi keputusan suku bunga Fed yang akan diumumkan minggu ini.
Indonesia Market
Bursa saham IHSG akhirnya Terkoreksi 1,22% ke 5.373,09 setelah mengalami penguatan selam empat hari berturut. Pergerakan pasar saham domestik dipengaruhi oleh aksi taking profit investor serta kombinasi sentimen global, dimana investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika.
Terkait reformasi pasar saham, Bursa Efek Indonesia mengkonfirmasi bahwa 80 saham High Shareholding Concentration (HSC) dikeluarkan dari IHSG mulai 2 November. Konsultasi MSCI untuk penurunan status Indonesia ke Standalone masih berjalan sampai 30 April 2027 dan keputusan final paling lambat 30 Juni 2027. Otoritas Jasa Keuangan focus terhadap delapan reformasi termasuk free float 15% secara bertahap dan transparansi kepemilakan saham yang di atas 1%.
Imbal hasil SBN 10 tahun diperkirakan naik tipis mengikuti Imbal Hasil US Treasury yang masih di 4,99%. Kepemilikan domestic di SBN masih mendominasi, kisaran 87% sedangkan kepemilikan asing di kisaran 13, %. Aliran asing pada pasar SBN masih mengalami nett inflow pada bulan Oktober 2026.
Kurs rupiah mengalami pelemahan di level Rp18.105 per US Dollar. Bank Indonesia menyatakan tetap support untuk ada di pasar guna menjaga stabilitas kurs rupiah. Rentang hari ini diperkirakan Rp18.060-Rp18.160. Tekanan rupiah efekdari menguatnya Indeks US Dollar (DXY) serta harga minyak yang rata-rata di atas $100/barel.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.