Kamis, 29 Oktober 2026
"It’s far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price." – Warren Buffett
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham Amerika mayoritas ditutup positif merespon hasil FOMC Oktober terkait langkah Fed mempertahankan suku bunga di level 3,75-4%. Fed menilai ekonomi Amerika masih mengalami ekspansi, aktivitas belanja masih kuat serta investasi yang masih tinggi. Fed tidak memberikan gambaran yang jelas terkait arah kebijakan pada FOMC di Desember nanti dengan statement Kevin Warsh bahwa Fed masih akan mengumpulkan lebih banyak informasi untuk menentukan kebijakan selanjutnya.
Harga minyak Brent naik ke US$ 115,32 setelah kelompok Houthi diklaim menyerang kilang minyak Ras Tanura di Arab Saudi. Sedangkan harga minyak WTI di level 102,78, naik +2,88% (+$2,88).
Bursa saham Eropa ditutup beragam pada penutupan kemarin. Indeks STOXX menguat +0,1%, DAX menguat +0,42%, CAC 40 flat, FTSE 100 menguat tipis +0,07%. Secara umum, bursa saha Eropa bergerak dalam rentang yang tidak terlalu tinggi, mencerminkan sikap kehati hatian oleh investor terkait Fed Meeting Oktober ini.
Bursa saham Asia ditutup menguat signifikan dan menjadi pemimpin penguatan global pada perdagangan kemarin. Penguatan dipimpin oleh Indeks Nikkei Jepang menguat +1,08% dan KOSPI Korea Selatan menguat +6,63% merespon positif euforia sektor teknologi dan laporan keuangan yang sangat kuat.
Indonesia Market
Pasar saham Indonesia berhasil merebound dan ditutup di zona hijau pada perdagangan kemarin, setelah sempat tertekan cukup dalam di sesi pagi akibat tekanan nilai tukar Rupiah dan harga minyak dunia. IHSG di tutup di level 5.282,00, menguat +0,31% Pergerakan IHSG sempat koreksi dalam -1,6% ke 5.179. Dua saham pendorong utama pada perdagnagan kemarin yaitu Astra International (ASII): +7,99% yang melonjak signifikan serta saham BCA (BBCA): +7,65% yang kembali diburu investor saat harga terkoreksi.
Pasar obligasi Indonesia SBN mengalami tekanan cukup berat pada perdagangan Selasa, 28 Oktober 2026. Imbal hasil (yield) naik signifikan ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, sejalan dengan pelemahan Rupiah dan lonjakan yield obligasi Amerika. Indo GB 10 th berada di level 7,52% menjadi level tertinggi sejak oktober 2022. Kenaikan yield yang signifikan ini membuka 2 sisi pandang, yaitu sisi risiko, dimana masih akan ada volatilitas ke depannya. Di sisi peluang, nasabah dapat mendapat yield tinggi untuk durasi investasi jangka menengah ke panjang mengingat rating Indonesia masih Investment Grade.
Nilai tukar Rupiah kembali melemah dan mencetak rekor penutupan terendah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa, 28 Oktober 2026, tertekan oleh menguatnya Dolar AS secara global dan naiknya imbal hasil obligasi Amerika. Kurs rupiah di level 18.175 melemah 0,17% melewati rekor pelemahan saat itu di tanggal 8 Juni 2026 di level 18.170.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.