Jumat, 30 Oktober 2026
"It’s far better to buy a wonderful company at a fair price, than a fair company at a wonderful price." – Warren Buffett
Indikator Ekonomi

Global Market
Bursa saham Wall Street mayoritas ditutup melemah pada akhir perdagangan. Indeks Dow Jones melemah -0,25%, S&P 500 koreksi -0,31% dan Nasdaq menjadi yang terbesar, koreksi -1,38%. Pelemahan didominasi dari saham teknologi. Pasar kurang puas terkait laporan keuangan Alphabet yang di bawah ekpektasi. Pasar masih menanti laporan Big Tech lainnya Amazon & Apple malam ini.
Perekonomian Amerika Serikat (AS) tumbuh 3,4% secara tahunan pada kuartal III 2026, mencatatkan laju tercepat dalam setahun dan melampaui ekspektasi pasar.
Bursa Eropa mayoritas ditutup menguat pada penutupan perdagangan. Indeks DAX menguat +1,31% menjadi penguatan terbesar di Eropa yang ditopang saham Adidas terkait laporan laba yang positif, CAC France menguat +1,05%, serta FTSE Inggris menguat +0,26%. Pasar merespons positif keputusan Bank Sentral Eropa (ECB) yang menahan suku bunga dan laporan keuangan yang solid, ECB melihat inflasi inti masih stabil, meskipun memberikan sinyal masih akan ada kenaikan ke depannya.
Bursa Asia ditutup beragam cenderung terkoreksi pada penutupan perdagangan kemarin. Hanya Indeks Nikkei yang menguat +1,10% ke level 64.659,47. Di sisi lain, terjadi aksi jual di bursa saham Korea, China, Hong Kong akibat kurang puasnya atas laporan keuangan perusahaan teknologi yang di bawah ekspektasi. Investor juga mengambil sikap hati hati menjelang pertemuan Bank Sentral Jepang (BOJ) dan Bank Sentral Eropa (ECB) yang kemungkinan masih akan mempertahankan suku bunga.
Indonesia Market
Pasar saham Indonesia kembali mengalami tekanan dan ditutup melemah di level 5.098,06 (-3,49%) pada perdagangan Kamis. Faktor pelemahan IHSG masih dipengaruhi oleh kekhawatiran atas peringatan MSCI serta hasil keputusan Fed Meeting terkait masih adanya peluang kenaikan suku bunga di Desember.
Terkait masukan MSCI, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menanggapi bahwa peringatan MSCI sebagai short-term shock dan yakin reformasi yang dilakukan OJK dan BEI akan cukup untuk menjawab kekhawatiran tersebut.
Pasar obligasi Indonesia juga masih mengalami tekanan. Imbal hasil (yield) kembali naik ke level 7,64%, level tertinggi sejak Oktober 2022. Namun sedikit berbeda dengan tenor pendek, seiring penguatan rupiah, imbal hasil tenor pendek mulai bergerak turun ke level 6.91% untuk tenor 1 tahun.
Nilai tukar Rupiah berhasil berbalik menguat di level Rp 18.137, menjauhi rekor terendahnya di Rp 18.184 kemarin lusa. Penguatan ini didukung oleh Indeks US Dollar (DXY) yang sedikit melemah imbas keputusan The Fed yang menahan suku bunga meskipun masih ada potensi kenaikan di bulan Desember nanti serta langkah stabilisasi dari Bank Indonesia.
Sumber data : Bloomberg.
Disclaimer : Dokumen ini tidak diperuntukan sebagai suatu penawaran, atau permohonan dari suatu penawaran, permintaan untuk membeli atau menjual efek dan segala hal yang berhubungan dengan efek. Seluruh informasi dan opini yang terdapat dalam dokumen ini dengan cara baik telah dihimpun dari atau berasal dari sumber-sumber yang dapat dipercaya dan diandalkan. Tidak ada pengatasnamaan atau jaminan, baik secara langsung maupun tidak langsung dari BNI termasuk pihak-pihak lain dari Grup BNI dari mana dokumen ini dapat diperoleh, terhadap keakuratan atau kelengkapan dari informasi yang terdapat dalam dokumen ini. Seluruh pendapat dan perkiraan dalam laporan ini merupakan pertimbangan kami pada tanggal tertera dan dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Divisi Wealth Management.
Manara BNI Lantai 7.
Jl. Perjompongan Raya No.7 Jakarta 10210.
www.bni.co.id/emerald.