Pernah melihat teman membagikan keuntungan investasinya di media sosial, lalu terpikir, “Kok saya belum ikut, ya?”
Atau ketika sebuah saham atau aset sedang ramai dibicarakan, muncul dorongan untuk segera membeli karena takut harganya keburu naik?
Hati-hati. Bisa jadi, keputusan tersebut bukan sepenuhnya lahir dari perencanaan, melainkan FOMO (Fear of Missing Out) atau rasa takut ketinggalan peluang setelah melihat orang lain lebih dulu mendapatkan keuntungan.
Di era digital, FOMO dalam investasi semakin mudah muncul. Unggahan portofolio, rekomendasi di media sosial, hingga percakapan di grup pertemanan dapat membuat suatu investasi terlihat seperti peluang yang tidak boleh dilewatkan.
Padahal, investasi bukan perlombaan siapa yang paling cepat membeli namun yang lebih penting adalah memahami produk yang dipilih, risikonya, dan kesesuaiannya dengan tujuan keuangan.
Ketika Cuan Orang Lain Membuat Kita Terburu-buru
Media sosial sering kali memperlihatkan hasil akhir berupa keuntungan. Kita mungkin melihat seseorang mendapatkan cuan Rp5 juta dari sebuah investasi. Namun, kita tidak tahu berapa modal yang digunakan, berapa lama investasinya, atau seberapa besar risiko yang harus ditanggung. Di sinilah FOMO bisa menjadi jebakan.
Ketika harga aset naik dan semakin banyak orang membicarakannya, muncul dorongan untuk ikut membeli. Padahal, harga yang sedang naik belum tentu terus naik. Sebaliknya, ketika harga turun, rasa takut dapat berubah menjadi panik dan mendorong kita menjual tanpa pertimbangan matang.
Akibatnya, keputusan investasi bisa berubah menjadi pola beli karena ikut-ikutan, jual karena ketakutan. Padahal, kondisi keuangan, tujuan, jangka waktu, dan kemampuan menghadapi risiko setiap orang berbeda. Jadi, keuntungan orang lain tidak bisa menjadi satu-satunya alasan untuk mengambil keputusan investasi.
Sebelum Klik “Beli”, Pause Sejenak
Saat menemukan investasi yang sedang viral, tidak ada salahnya berhenti sejenak sebelum mengambil keputusan.
Coba tanyakan tiga hal berikut:
1. Apakah saya memahami investasi ini?
Pahami bagaimana produk tersebut bekerja, potensi keuntungan, biaya, serta risiko yang mungkin terjadi. Jangan membeli hanya karena banyak orang membicarakannya atau karena ada yang mengaku sudah mendapatkan keuntungan.
2. Jika nilainya turun, apakah kondisi keuangan saya tetap aman?
Jangan hanya menghitung potensi keuntungan. Pertimbangkan juga kemungkinan kerugian. Pastikan dana yang digunakan untuk investasi bukan dana untuk kebutuhan pokok, dana darurat, pembayaran cicilan, atau kebutuhan operasional usaha.
3. Apakah investasi ini sesuai dengan tujuan keuangan saya?
Investasi untuk pendidikan anak, membeli rumah, mengembangkan usaha, atau mempersiapkan dana pensiun tentu memiliki kebutuhan dan jangka waktu yang berbeda. Karena itu, pilihan investasi sebaiknya mengikuti tujuan keuangan, bukan sekadar mengikuti tren. Jika belum yakin dengan jawabannya, tidak membeli hari ini bukan berarti kehilangan peluang. Bisa jadi, justru itu keputusan yang lebih bijak.
Salah satu cara menghindari FOMO adalah mengubah pertanyaan dari:
“Apa yang sedang naik?” menjadi “Saya berinvestasi untuk apa?”
Tentukan tujuan terlebih dahulu, kemudian sesuaikan pilihan investasi dengan kebutuhan, jangka waktu, dan profil risiko. Investasi juga dapat dilakukan secara bertahap dan konsisten. Salah satu metode yang dikenal adalah Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu menginvestasikan dana dengan jumlah yang relatif sama secara berkala tanpa harus menebak kapan harga berada di titik terbaik.
DCA bukan jaminan keuntungan dan tetap memiliki risiko. Namun, pendekatan ini dapat membantu membangun disiplin investasi dan mengurangi kebiasaan mengejar harga karena tren sesaat.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah memisahkan dana berdasarkan peruntukannya. Misalnya, seorang pelaku UMKM memiliki Rp20 juta yang akan digunakan untuk membeli bahan baku bulan depan. Dana tersebut sebaiknya tidak dialihkan ke investasi berisiko hanya karena ada aset yang sedang viral. Dana usaha untuk usaha. Dana kebutuhan untuk kebutuhan. Dana investasi untuk investasi. Dengan begitu, keputusan investasi tidak mengganggu kebutuhan finansial yang lebih prioritas.
Literasi Keuangan Jadi Bekal Penting
Kemudahan mengakses berbagai instrumen investasi perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Literasi keuangan bukan berarti harus menjadi ahli investasi. Yang terpenting adalah mampu memahami produk keuangan, mengenali risikonya, menentukan prioritas, dan mengambil keputusan sesuai kondisi serta tujuan keuangan.
BNI terus mendukung peningkatan literasi dan inklusi keuangan masyarakat melalui berbagai edukasi dan solusi keuangan. Harapannya, masyarakat dapat semakin percaya diri dalam mengambil keputusan finansial dan memanfaatkan berbagai peluang keuangan secara lebih terencana, bijak, dan bertanggung jawab.
Pada akhirnya, investasi bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan cuan. Investasi adalah tentang bagaimana kita tetap disiplin dan konsisten menuju tujuan keuangan.
Jadi, sebelum mengikuti investasi yang sedang ramai, tanyakan kembali pada diri sendiri:
“Saya membeli karena memang memahami peluangnya, atau karena takut ketinggalan?”
Jika jawabannya karena FOMO, pause dulu. Pahami produknya, pertimbangkan risikonya, sesuaikan dengan tujuan keuangan, lalu putuskan. Karena dalam investasi, tidak semua peluang harus dikejar. Yang terpenting, setiap keputusan membawa kita semakin dekat dengan tujuan keuangan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
1. Apa itu FOMO dalam investasi?
FOMO atau Fear of Missing Out adalah rasa takut ketinggalan peluang investasi setelah melihat orang lain mendapatkan keuntungan. Kondisi ini dapat mendorong seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru tanpa mempertimbangkan risiko dan tujuan keuangannya.
2. Mengapa FOMO berbahaya bagi investor?
FOMO dapat membuat seseorang membeli aset hanya karena sedang ramai atau harganya naik. Ketika kondisi berubah dan harga turun, keputusan tersebut dapat berujung pada kepanikan dan kerugian jika tidak didukung perencanaan yang baik.
3. Bagaimana cara menghindari FOMO saat berinvestasi?
Mulailah dengan memahami produk investasi, mengenali risikonya, menentukan tujuan keuangan, menyesuaikan investasi dengan profil risiko, serta menggunakan dana yang memang dialokasikan untuk investasi.
4. Apakah investasi yang sedang viral pasti menguntungkan?
Tidak. Popularitas suatu investasi tidak menjamin keuntungan. Setiap investasi memiliki risiko yang perlu dipahami sebelum mengambil keputusan.
5. Apakah Dollar Cost Averaging (DCA) bisa menghilangkan risiko investasi?
Tidak. DCA bukan jaminan keuntungan dan tidak menghilangkan risiko investasi. Metode ini lebih ditujukan untuk membantu membangun kebiasaan investasi secara berkala dan disiplin.
6. Apa yang harus dilakukan jika sudah terlanjur membeli investasi karena FOMO?
Jangan langsung panik. Evaluasi kembali alasan pembelian, kondisi investasi, risiko, dan kesesuaiannya dengan tujuan keuangan. Hindari mengambil keputusan lanjutan hanya karena emosi atau keinginan untuk segera menutup kerugian.